Wombo Painter

 

“Belajar programming itu sulit!”. Itulah pendapat umum yang berkembang di masyarakat, bahkan sering juga dialami oleh mahasiswa yang ingin belajar pemrograman. Namun rupanya tidak demikian bagi Samuel Halimanto, yang biasa akrab dipanggil “Sammy”. Sammy adalah mahasiswa Teknik Informatika UNPAR yang sudah sering berkiprah dalam kompetisi pemrograman mewakili UNPAR. Berlawanan dengan pandangan umum tersebut, Sammy terinspirasi untuk membuat game yang dapat membantu siswa SMP/SMA berkenalan dengan dunia pemrograman. Game dipilih sebagai sarana pembelajaran karena generasi muda saat ini sangat akrab dengan game, sehingga diharapkan dapat termotivasi untuk belajar pemrograman lewat media permainan.

Game ini dinamakan Wombo Painter. Pemain bertugas menjalankan beberapa karakter wombat untuk menggambar pada sebuah kanvas. Pergerakan para wombat ini dikodekan dengan perintah-perintah sederhana berbasis bahasa Coffee Script. Setiap wombat memiliki kuas berwarna yang berlainan satu sama lain, yaitu merah, kuning, dan biru. Wombat-wombat ini dapat berkolaborasi untuk membuat warna-warna sekunder maupun tersier, misalkan jika merah dicampur dengan biru, maka akan tampil warna ungu. Pada setiap level permainan, pemain diberikan gambar tujuan yang harus ia tiru. Menariknya, pemain tidak perlu membuat gambar yang 100% sama untuk bisa melanjutkan ke level berikutnya. Jika gambar tujuan dan gambar milik pemain dianggap sudah cukup mirip, pemain diberikan skor 1 bintang. Jika kedua gambar sama persis, pemain diberikan skor 2 bintang. Terakhir, jika kode yang dituliskan pemain cukup pendek, ia diberikan skor 3 bintang.

Prototipe permainan ini terdiri dari 25 level yang mengajarkan konsep dasar pemrograman berorientasi objek dan logika perulangan. Level-level permainan juga disisipi dengan tantangan-tantangan untuk menguji pemahaman mereka. Pertengahan bulan April yang lalu, game ini diujikan pada siswa-siswa kelas XI SMAK Bina Bakti 2. Respon yang didapat sangat baik, seluruh kelas nampak serius memainkan permainan ini hingga akhir waktu yang diberikan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mencoba lagi di komputer rumahnya masing-masing.

Ke depannya, game ini akan dikembangkan untuk mengajarkan lebih banyak konsep pemgrograman, seperti percabangan dan pembuatan method. Dengan demikian game ini akan semakin sesuai dengan tujuan pembuatannya, yaitu untuk membantu pengajaran pemrograman. Selain itu, akan ditambahkan juga fitur untuk guru-guru pengajar menambahkan level baru sesuai dengan kebutuhan kelas.

Bagi yang berminat mencoba, prototype game ini dapat diakses secara online pada alamat http://wombopainter.online-ga.me/.

by Joanna Helga &

Thomas Anung Basuki