Workshop Pembuatan Soal Computational Thinking

Foto Bersama Workshop Pembuatan Soal Computational ThinkingBerdasarkan salah satu artikel yang ditulis oleh World Economic Forum, dua keahlian terpenting yang diperlukan pada masa mendatang adalah complex problem solving dan critical thinking. Dalam beberapa tahun ini, di Indonesia mulai diperkenalkan sebuah bidang ilmu yang disebut dengan Computational Thinking (CT). Menurut Carnegie Mellon Centre for Computational Thinking, CT adalah cara untuk menyelesaikan masalah, mendesain sistem, dan memahami perilaku manusia yang menggunakan pendekatan dari computer science. Direktur Data Sciences Institute Columbia University, Jeanette M. Wing, mengatakan bahwa CT merepresentasikan perilaku dan kemampuan yang bersifat universal, bukan hanya untuk computer scientist. Wing juga mengatakan bahwa selain kemampuan membaca, menulis, dan aritmetika, CT perlu diperkenalkan kepada anak-anak untuk mengasah kemampuan berpikir analitis.

Saat ini, sebanyak 46 negara di dunia telah memperkenalkan dan mengimplementasikan CT dalam pendidikannya melalui Bebras, dan 17 negara sedang berstatus sebagai pengamat. Sebagai bentuk partisipasi dalam penyebarluasan CT di Indonesia, Program Studi Teknik Informatika Universitas Katolik Parahyangan (Prodi IF UNPAR) menyelenggarakan Workshop Pembuatan Soal-soal Computational Thinking pada tanggal 1 Oktober 2018. Workshop ini diikuti oleh 37 orang dosen dari berbagai perguruan tinggi, yaitu:

  1. Institut Teknologi Bandung
  2. Telkom University, Bandung
  3. Universitas Pasundan, Bandung
  4. Universitas Kristen Maranatha, Bandung
  5. Universitas Komputer Indonesia, Bandung
  6. Universitas Dian Nuswantoro, Semarang
  7. Universitas Islam Nusantara, Bandung
  8. Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

Situasi yang melatarbelakangi penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah bahwa Prodi IF UNPAR telah menjadi salah satu biro resmi dari Bebras Indonesia, yang juga bermisi untuk mensosialisasikan CT di Indonesia. Selain itu, sosialisasi CT diangkat sebagai kegiatan pengabdian masyarakat dari Prodi IF UNPAR. Berdasarkan pengalaman sosiasisasi CT ke beberapa sekolah di Bandung, dirasakan kebutuhan yang lebih spesifik, yaitu membantu guru-guru pada jenjang TK-SMA untuk membuat soal-soal yang merangsang kemampuan berpikir analitis para siswa. CT menawarkan beberapa konsep yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bentuk soal, yaitu logic, algorithms, decomposition, patterns, abstraction, dan evaluation.

Workshop ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah pemberian gambaran umum mengenai CT yang dibawakan oleh Dr.Ir. M.M. Inggriani yang saat ini menjabat sebagai Koordinator National Bebras Oganizer (NBO) Indonesia. Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Suryana Setiawan, Ir., M.Sc., Ph.D. yang saat ini menjadi salah satu anggota dari Scientific Committee di NBO Indonesia, pelatih Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI), dan dosen di Fakultas Ilmu Komputer Univeritas Indonesia.

Bapak Suryana mengatakan bahwa complex problem solving memerlukan kombinasi dari mathematical thinking (MT) dan computational thinking. Dalam berbagai perlombaan pada tingkat dasar, menengah, hingga SMA (Bebras Challenge, CSUnplugged, IOI), penekanan soal-soal masih berkisar pada CT dan sebagian MT. Sedangkan perlombaan pada tingkat perguruan tinggi (Gemastik, ACM ICPC) dan riset bidang komputasi, penekanan pada MT dan CT lanjut.

Beberapa konsep yang digunakan dalam pembuatan soal-soal CT oleh Bebras adalah sebagai berikut:

  1. Didasarkan pada masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan model masalah komputasi
  2. Didasarkan pada masalah/proses dalam ICT (misalnya scheduling atau image processing), kemudian dibungkus dalam bentuk soal cerita agar menjadi kasus yang realistis.
  3. Didasarkan pada model komputasi (known model, misalnya: cellular automata, heuristic) yang juga dikemas dengan soal cerita yang realistis.

Agar soal-soal CT dapat menarik perhatian siswa/i, narasumber pada sesi kedua ini memberikan beberapa tips dan trik, yaitu membuat soal yang menarik secara visual (dengan gambar-gambar berwarna), soal disampaikan dalam bahasa yang sederhana agar mudah dipahami, dan masalah yang diangkat adalah masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan para siswa. Tingkat kesulitan soal pun perlu disesuaikan untuk tiap jenjang usia peserta.

Setelah penjelasan mengenai pembuatan soal-soal CT ini selesai, peserta diajak untuk bersama-sama melihat contoh-contoh implementasi aspek CT dalam soal-soal Bebras untuk berbagai jenjang pendidikan. Peserta pun antusias berpartisipasi dalam sesi tanya jawab.

Sebagai pihak penyelenggara, Prodi IF UNPAR berharap agar workshop ini memberikan manfaat bagi banyak orang. Semoga para dosen yang mengikuti workshop ini menjadi lebih bersemangat dalam mensosialisasikan CT di sekolah-sekolah yang dapat dijangkau olehnya demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

by Vania Natali