Sharing Alumni: Adi Rahman

Adi Rahman
Adi Rahman

Salah satu isu yang berkembang adalah sulitnya mengikuti kuliah di Program Studi Teknik Informatika, apalagi lulus. Artikel kali ini adalah sharing dari salah seorang alumni Adi Rahman (2009) yang mungkin secara akademis tidak eksepsional, tetapi mau berusaha dan berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan: pekerjaan yang baik, dan kesempatan bekerja bersama satu dari tiga Google Developer Expert di Indonesia. Artikel sudah melalui proses editing tanpa mengurangi maksud.

Selepas SMA, saya tidak melanjutkan pendidikan terlebih dahulu. Selama 1 tahun saya mencoba mencari pengalaman bekerja serabutan, di mana banyak sekali pengalaman dan motivasi hidup yang didapatkan. Saya memiliki hobi dalam mengoprek (bermain dengan) perangkat keras komputer, sambil sedikit belajar bahasa pemprograman. Bahasa pemprograman yang saya pelajari adalah Java. Kenapa Java? Karena saat itu saya suka minum kopi Java Arabica. Saya belajar mulai dari menginstalasi JDK (Java Development Kit), mengatur environment (ini yang paling membuat frustasi, karena mengetik perintah “javac” di command prompt selalu gagal), sampai akhirnya mengetikkan “javac hello.java”, enter, dan muncul teks “Hello World” di layar.

Setelah satu tahun tidak kuliah, pacar saya membujuk saya untuk kuliah di Teknik Informatika UNPAR. Saya mencoba mengikuti Ujian Saringan Masuk ke-2, dan ternyata saya diterima. Datang di hari OSPEK yang ceria, masa-masa OSPEK yang bahagia selama 3 hari dengan penuh kesibukan, dan akhirnya tibalah hari pertama kuliah. Di hari pertama, saya mengikuti kuliah Kalkulus, mata kuliah yang susah. Rasanya sangat sulit, tidak tahu bagaimana agar mendapat nilai bagus. Yang penting lulus saja. Hari-hari kuliah yang menyenangkan bersama teman-teman seperjuangan, yang sama-sama tidak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Terkadang saya suka iri dengan beberapa teman yang IPK-nya bisa menyentuh 3 ke atas tetapi mengandalkan mata kuliah-mata kuliah non-pemrograman (relatif lebih mudah), sedangkan IPK saya hanya diantara 2 sampai 2.5 saja. Setidaknya saya mencoba berjuang di mata kuliah pemrograman, walau berujung di nilai C. Hingga masa-masa sebelum pengambilan topik skripsi, saya sering mempertanyakan “Apakah setelah lulus ada perusahaan yang mau memperkejakan saya, yang IPK-nya dibawah 3?”

Saya pernah aktif sebagai anggota himpunan, di divisi akademik. Benar, divisi akademik, dengan IPK saya saat itu hanya 2.2. Saya sendiri tidak percaya saya diterima masuk divisi akademik. Saya hanya berpikir saya sedang beruntung saja. Pertama kalinya kuliah di Teknik Informatika UNPAR saya tidak tidur hampir 3 hari berturut-turut, karena melakukan editing buku pintar untuk dibagikan ke mahasiswa. Mengerjakan konten persamaan kalkulus banyak yang tidak bisa selesai dalam waktu 1 hari. Selain kalkulus, sisanya hanya perlu 8 jam untuk diselesaikan. Pada akhirnya, untuk kalkulus perlu total sekitar 24 jam untuk menyelesaikan. Ternyata penderitaan itu belum berakhir. IXPO, momen terberat yang saya rasakan menjadi ketua acara seminar, ditambah beban himpunan yang memiliki hutang finansial yang sangat besar dan perlu dilunasi. Perjuangan mempromosikan seminar agar banyak yang membeli tiketnya, hingga akhirnya dari seminar dapat membantu melunasi hingga 20 persen dari total hutang himpunan. Jika Anda bertanya kepada saya, “Apakah himpunan mengganggu kuliah?”, saya akan menjawab: “Tidak, karena kuliah itu seperti hiburan dari kepenatan himpunan.”

Suatu saat ada mata kuliah pemrograman aplikasi bergerak, di mana setengah semester awal saya tidak bisa apa-apa. Saya satu kelompok dengan teman yang dengan “baik hati” mengerjakan semua pekerjaan. Bisa dibilang dia maniak dalam pemrograman, tetapi selalu baik bila kita bertanya dan dia akan mencoba menjawabnya dengan baik. Tetapi apa yang mau ditanyakan, karena apa yang saya kerjakan tidak ada dan seluruh modul sudah dibereskan oleh dia. Di masa pasca UTS, di mana materi pembahasan adalah tentang Android, saya tidak sekelompok dengan dia (yang biasa mengerjakan semua pekerjaan). Saya sekelompok dengan tim yang mungkin dapat dikatakan tim “buangan”, di mana di tim tersebut tidak ada yang mengerti soal Android. Dari situ saya mencoba belajar Android sendiri. Ternyata menarik, karena apa yang kita program bisa ditampilkan ke perangkat smartphone. Saya senang bermain dengan Android, mulai dari harus berulang-ulang mengetikkan kode karena fitur “clean project” yang error dari IDE Eclipse, sehingga baris-baris kode program yang telah ditulis hilang begitu saja dan terus berulang hingga puluhan kali. Proyek yang saya dan tim kerjakan saat itu adalah membuat aplikasi angklung virtual. 1 minggu sebelum batas akhir pengumpulan, saya meminta teman-teman saya mencarikan gambar-gambar angklung dan suara tangga nada untuk angklung. Pada akhirnya saya dan tim dapat mengumpulkan proyek angklung tersebut, dan di saat  pembagian nilai pun, saya mendapat nilai B. Ada di antara teman saya di tim lain yang mendapat nilai A. Saya tidak cemburu karena dia mendapat A dan saya mendapat B, karena saya merasa mendapatkan ilmu lewat proses yang saya jalani dan itu memuaskan.

Tibalah masa-masa skripsi. Di tahap pemilihan topik, awalnya saya punya beberapa ide yang ingin saya ajukan, tetapi setelah berkonsultasi dengan beberapa calon dosen pembimbing, saya tidak menjadikan ide saya sebagai topik skripsi. Saya mengambil judul topik yang ditawarkan program studi saat itu, yaitu “Pembangunan Aplikasi Penunjuk Jalan untuk Tuna Netra Menggunakan Android”. Saya mengambil topik tersebut karena aplikasi tersebut berhubungan dengan Android, materi yang telah saya pelajari dengan cara saya sendiri. Ternyata ilmu Android saya sangat kecil jika ingin mengimplementasikannya ke dunia nyata. Mulai `dari sumber masukan, menentukan jalur, dan memberikan umpan balik arahan kepada pengguna, (karena pengguna tidak dapat melihat layar smartphone). Penelitian dilakukan dengan berkonsultasi bersama dosen pembimbing, teman-teman, dan orang-orang lainnya. Setelah disusun pun saya mengalami kegagalan untuk maju sidang, karena saya masih kurang paham atas materi yang saya pelajari. Tetapi setelah mengulangd 1 kali, semua lancar hingga akhirnya saya lulus.

Pertanyaan pada masa-masa kuliah pun muncul kembali: “Apakah setelah lulus ada perusahaan yang mau memperkejakan saya, yang IPKnya dibawah 3?”. Ternyata bisa! Saya lulus dengan IPK 2.6, dan awalnya bekerja di sebuah perusahaan Android Development di Bandung, dengan gaji yang ditawarkan hanya setara UMR. Tetapi, saya langsung dididik oleh salah seorang Gooogle Developer Expert Android (di Indonesia hanya ada 3). Setelah satu tahun lebih saya pindah bekerja ke tempat saya sekarang, sebuah startup bertaraf internasional dengan gaji yang lebih sesuai dengan yang diinginkan.

Akhir kata, saya sampai pada kesimpulan IPK mungkin penting, tetapi bukan itu yang menentukan apakah kita bisa bekerja dengan baik. Yang diperlukan adalah keinginan berjuang untuk terus maju, karena “Semua cita-cita perlu perjuangan, bakat hanya mempercepat perjalanan, tetapi keinginanlah yang membuat kita sampai di tujuan”.

by Adi Rahman & Pascal Alfadian